Senin, 05 Mei 2014

MENGGAPAI KERINDUAN DENGAN KERINDUAN (Oleh : Buya Yahya)





MENGGAPAI KERINDUAN DENGAN KERINDUAN

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
www.buyayahya.org – www.buyayahya.com – www.radioquonline.com


Suatu ketika, saat Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain (yang saat itu masih anak-anak) melihat seorang kakek yang sedang berwudhu dengan cara yang salah. Muncullah keinginan dari kedua cucu Rasulullah SAW ini untuk bisa mengingatkan orang tua tersebut, agar amal ibadahnya benar tanpa menyinggung perasaanya. 

Kemudian Sayyidina Hasan bersepakat dengan Sayyidina Husain untuk berlomba wudhu dan menjadikan sang kakek sebagai juri yang akan menilai kebenaran wudhu mereka. Lomba berwudhu pun dimulai. Dan di akhir perlombaan tersebut, sang kakek pun tersadar bahwa wudhu Sayyidina Hasan dan Husain ternyata lebih benar dan sempurna dari wudhunya sendiri.

Ini adalah pelajaran dakwah dari cucu Rasulullah SAW, dengan menyertakan kemuliaan akhlak dan tatakrama dalam mengingatkan orang lain khususnya orang yang lebih tua. 

Sahabatku, mengingatkan orang lain artinya kita mengajak orang lain agar bisa lebih baik dan benar, bukan untuk menghukuminya sebagai yang salah dan terhinakan. Melihat orang lain dengan penuh kasih sayang dan menghargainya adalah pancaran ketulusan seorang penyeru kebaikan. Dari situlah kejayaan dihadapan Allah SWT akan diperoleh. Pembelajaran ini sangat tepat bagi Juru dakwah termasuk di dalamnya adalah Ustadz dan Kyai.

Disaat seseorang menyampaikan kebaikan haruslah ia melihat dirinya sebagai yang membutuhkan pahala dan penghargaan dari Allah SWT dibalik upaya dakwahnya sebelum melihat kepada orang lain sebagai orang yang membutuhkan kepada ajakannya. Makna "membutuhkan" inilah yang menjadikan seseorang tidak kenal putus asa dalam mengenalkan kebaikan kepada orang lain. Hingga ia senantiasa mengambil cara yang paling indah agar ajakannya bisa diterima oleh orang lain sebagai perwujudan makna hikmah yang diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW yang sekaligus harus kita ikuti.

Sahabatku, Sayyidina Hasan dan Sayyidia Husain dalam usianya yang masih amat dini ini sangat paham makna hikmah berdakwah, karena mereka adalah cucu dari sumber hikmah, Rasulullah SAW. Beliau berdua tidak ingin menyakiti hati orang tua tersebut dengan "salah menegur" saat sang kakek salah dalam berwudhu. Maka dengan ketulusan dan kerendahan hati, mereka berperan sebagai orang yang ingin benar didalam berwudhu padahal sebenarnya mereka ingin membenarkan wudhu orang lain. 

“Alangkah mulianya akhlakmu wahai cucu Rasulullah SAW…”. Dan alangkah indahnya siapapun yang ingin mengajak kepada kebaikan lalu mengajak dengan penuh kasih dan ketawadhuan. Sungguh dakwah bukanlah pamer ilmu atau bangga akan sebuah gelar. Akan tetapi dakwah harus berangkat dari keindahan menuju keindahan dan dengan cara yang indah.

Dan setelah itu, mari kita bercermin, sadar diri dan mencermati diri dan di sekitar kita! Dimana hikmah dan akhlak kita saat mengajak orang lain kepada kebaikan? Bisakah menuai hasil jika mulut dan lidah kita tidak luput dari kalimat cacian dan penghinaan terhadap orang yang kita anggap salah ? Dimana kasih sayang dan kerinduan kita untuk merindukan orang lain kepada Allah SWT? Jangan sampai ajakan kita kepada Allah berubah menjadi ajakan kepada diri sendiri atau kelompok. Bisakah orang lain rindu kepada Allah jika yang mengajak bukanlah orang yang merindukan Allah SWT? Dari kerinduan kepada Allah inilah akan hadir ajakan yang dirindukan dan penuh kasih untuk menghantarkan hamba-hamba Allah kepada kerinduan kepada Allah SWT yang sesungguhnya.. 


Wallahu a'lam bisshowab 


Minggu, 04 Mei 2014

CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ Oleh : Buya Yahya




CATATAN PENTING DI BALIK KISAH ISRO’ MI’ROJ

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
Like Fan Page 
Ummi Fairuz (Istri Buya Yahya)


Segala puji bagi Alloh yang Maha Kuasa. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW berserta keluarga dan sahabatnya.
 Di bulan Rajab banyak sekali kegiatan kaum muslimin yang sudah mengakar dari masa kemasa seperti merayakan Isro’ Mi’roj atau berpuasa di bulan Rajab. 

Isro’ Mi’roj adalah kejadian yang luar biasa atau mu’jizat yang diberikan oleh Alloh kepada Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya terdapat hikmah-hikmah serta ilmu yang amat luar biasa bagi orang yang merenunginya. Kejadian Isro’ disebutkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an surat Al-Isro ayat 1. Adapun kejadian Mi’roj disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shohih di antaranya riwayat yang disebutkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam hadits panjang yang menceritakan tentang perjalanan Nabi SAW saat isro mi’roj. 

Ada beberapa hal yang harus dicermati di dalam pelajaran Isro’ Mi’roj.

Pertama; Nabi Muhammad di perjalankan oleh Alloh dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso hingga ke atas langit ke tujuh adalah dengan badan dan ruhnya. Dan badan Nabi SAW masih tetap dalam bentuk aslinya dan tidak berubah menjadi cahaya seperti yang diceritakan oleh sebagian penulis-penulis yang kurang berbekal sebab yang namanya Mu’jizat adalah kejadian yang luar biasa dan jika Nabi SAW berubah menjadi cahaya maka kejadian itu menjadi tidak luar biasa lagi. Maka di dalam memahami istilah ilmiah seperti ini hendaknya dikembalikan oleh Ulama terdahulu dan jangan menghayal dengan berdalih disesuaikan dengan kajian-kajian ilmiah. 
Yang harus dipahami bahwa penemuan ilmiah tidak akan bertentangan dengan syari’at, kalau ada pertentangan antara kajian ilmiah dengan syariat tentu karena salahnya kajian ilmiah atau salahnya seseorang dalam memahami syari’ah. Dan perjalanan Isro’ Mi’roj Nabi tidak bertentangan dengan penemuan ilmiah karena perjalanan Nabi SAW adalah tidak bisa patuh dan tunduk kepada riset dan kajian ilmiah. Akan tetapi kejadian Isro’ Mi’roj adalah terjadi karena kuasa Alloh SWT yang menciptakan waktu dan tempat.

Kedua, perayaan Isro’ Mi’roj maknanya adalah mengagungkan dan menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW, karena perayaan Isro’ Mi’roj akan selalu mengangkat tema kisah Isro’ Mi’roj Nabi, dengan pembahasan panjang lebar dan ditekankan pada pemahaman akan kewajiban sholat, makna-makna sesuatu yang diperlihatkan oleh Alloh kepada Nabi SAW. Dan hal semacam ini tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi SAW. Justru hal-hal semacam inilah yang diperintahkan oleh Rasululloh SAW. Maka sungguh aneh jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan perayaan Isro’ Mi’roj adalah bid’ah. Bagaimana mengagungkan kejadian agung, membacakan riwayat dari Nabi SAW serta menjelaskannya agar umat semakin paham tentang Isro’ Mi’roj, hikmah Isro’ Mi’roj, ilmu Isro’ Mi’roj, pesan kesan dibalik Isro’ Mi’roj dan lain sebagainya akan dikatakan sebagai bid’ah? Dan sungguh alangkah indahnya di sebuah acara Isro’ Mi’roj tiba-tiba ada seorang anak kecil menyenandungkan syair untuk Nabi SAW kemudian diikuti dengan santunan untuk anak yatim, kemudian setelah itu berdirilah beberapa Ustadz menjelaskan dengan detail tentang sholat tentang apa yang dilihat oleh Nabi SAW dalam isro mi’roj . 

Dan memang ada sebagian perayaan Isro’ Mi’roj yang dibarengi dengan pelanggaran syari’at, seperti berkumpulnya laki-laki dan perempuan yang saling berdesakan atau mungkin adanya tontonan yang membuka aurat. Akan tetapi orang yang berfikir dan berilmu akan tahu bahwasanya Isro’ Mi’roj bukan seperti itu. Itu adalah pelanggaran-pelanggaran dalam Isro’ Mi’roj yang harus dipangkas. Bukan Isro’ Mi’roj nya yang harus dihentikan. 
Adapun hari dan tanggal terjadinya Isro dan Mi’roj memang Ulama berbeda pendapat dalam hal ini .Ada yang mengatakan tanggal 27 Rojab ada yang mengatakan selain tanggal tersebut.
Masalah hari dan tanggal tidak penting, yang jelas dan pasti bahwa Rasululloh SAW telah benar-benar isro’ mi’roj dan kita tidak merayakan hari dan tanggal akan tetapi kita merayakan kejadian dan pesan yang ada di dalam kisah isro’ mi’roj .

Ketiga; di saat Nabi Muhammad SAW dimi’rojkan oleh Alloh SWT (diangkat keatas langit ketujuh). Disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berbicara langsung dengan Alloh SWT. Yang harus dipahami bahwa menurut jumhur ulama bahwa Nabi Muhammad SAW di saat itu tidak melihat Alloh dengan mata kepala beliau, akan tetapi beliau melihat Alloh SWT dengan mata hatinya. Dan memang benar Alloh berbicara dengan Nabi Muhammad adalah dengan hakikat berbicara yang hanya Alloh dan Rasululloh-lah yang tahu caranya. Akan tetapi yang harus kita ketahui bahwa di saat Nabi Muhammad berbicara dengan Alloh bukan berarti Nabi harus melihat dengan mata kepala beliau, ini yang harus kita yakini. Memang ada sebagian para ulama yang mengatakan Nabi Muhammad melihat dengan mata kepala beliau seperti pendapat yang di nukil dari Imam an-Nawawi, Imam Qodi’iyadh dan Imam al-Farro’. Akan tetapi para pakar aqidah Ahlisunnah waljamaah menjelaskan bahwasanya pendapat itu adalah pendapat lemah. 

Keempat; Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Mustawa. Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang setelah membaca kisah Isro’ Mi’roj dan kisah Nabi SAW berbicara dengan Alloh SWT di atas Sidratul Muntaha dan di atas Mustawa lalu berangan-angan bahwa Alloh ada di atas langit sana. Maka yang harus dijelaskan bahwa atas Mustawa bukanlah tempatnya Alloh, akan tetapi tempatnya Nabi SAW. Alloh tidak butuh kepada tempat. Maka jangan dikatakan Alloh di atas, sebab atas dan bawah adalah ciptaan Alloh SWT.
Disebutkan juga di dalam Al-Qur’an, Alloh mengajak bicara Nabi Musa As , di saat Nabi Musa berada di atas atas bukit Tursina, maka yang harus dipahami adalah bahwa bukit Tursina adalah tempatnya Nabi Musa, bukan tempatnya Alloh. Lalu “Alloh dimana?” Jawabnya adalah karena Alloh tidak butuh tempat, maka jangan bertanya dengan pertanyaan “Alloh dimana?”. Karena Alloh tidak butuh mana-mana, Alloh tidak serupa dengan makhluknya .
Kepercayaan bahwa Alloh di atas langit adalah kesesatan dalam beraqidah. Hal-hal semacam itu harus diluruskan, bahkan ada di beberapa sekolahan yang siswa-siswi mereka, ditanya oleh gurunya dengan pertanyaan “Alloh dimana ?” Itu adalah pertanyaan fitnah yang tidak membangun aqidah. Dan itu karena mana-mana adalah ciptaan Alloh , dan Alloh tidak butuh kepada ciptaanNya. 
Ada diriwayatkan dari Imam Muslim tentang pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak, dengan pertanyaan “Alloh dimana?” dan hal itu sudah dijelaskan oleh para Ulama panjang lebar dengan mendatangkan kisah budak tersebut dari riwayat para Imam Ahli Hadits yang lainnya, hingga tidak menyisakan keraguan apapun bahwa Alloh tetap tidak butuh tempat. 

Kelima; Rosululloh SAW yang dalam keadaan hidup bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berdialog. Itu adalah mukjizat dan yang di fahami para Ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai karomah yang diberikan oleh Alloh kepada orang tersebut. Dan inilah pengalaman para kekasih Alloh yang sangat banyak jumlahnya bertemu dengan Nabi SAW setelah Nabi Muhammad wafat.

Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan bahwa berdusta atas nama Rasululloh adalah dosa besar dan ancamanya adalah neraka jahanam. Orang yang mengaku bertemu Rasululloh atau bermimpi bertemu Rasululloh dengan dusta tempatnya adalah neraka jahannam.

Penjelasan tentang kemungkinan seorang sholih bertemu Rasululloh SAW jangan membuka celah pendusta dan dajjal kecil untuk mengaku bertemu Rosululloh SAW karena gila pangkat penghormatan, maqom kemulyaan didunia dan ingin dianggap sebagai waliyulloh. Itulah wali syetan yang pendusta.
Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW di lahir dan batin kita di dunia, di alam barzah, di padang makhsyar dan di surga Alloh SWT.


Wallohu A’lam bishshowab.




Mari bergabung bersama media dakwah Buya Yahya :
www.bigradioqu.com

FB : https://www.facebook.com/buyayahya.albahjah
Twitter : https://twitter.com/buya_albahjah
Instagram : http://instagram.com/buyayahya_albahjah
WhatsApp : 082335404145
YM : majelis_albahjah@yahoo.co.id

Kamis, 24 April 2014

Doa Penyembuh Sakit di Badan (oleh Ust. Yusuf Mansur dan Ust. Mahmud asy-Syafrowi)

Doa Penyembuh Sakit di Badan
(oleh Ust. Yusuf Mansur dan Ust. Mahmud asy-Syafrowi)


Tentu kita semuanya pernah mengalami sakit dan kita tak bisa lepas sama sekali dari penyakit, karena sakit adalah sunnatullah. Tak ada orang yang sehat  terus-menerus tanpa pernah menemui sakit.
Jika kita menderita sakit, maka dianjurkan untuk  melakukan pengobatan dangan cara ruqyah syar’iyyah (pengobatan secara syar’i).

v  Diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra.,  ia berkata: “Apabila ada salah seorang di antara kita yanng sakit, maka Rasulullah Saw mengusap orang itu dengan tangan kanannya sambil berdoa.” (HR. Muslim).
v  Imam an-Nawawi berkata: “Adapun ruqyah dengan ayat-ayat Al-Quran dan dzikir-dzikir yang terkenal, maka tidak ada larangan padanya, bahkan ia termasuk sunnah.”
v  Imam Ibn Taimiyah berkata: “ Sesungguhnya meruqyah termasuk amalan yang utama. Meruqyah termasuk kebiasaan para Nabi dan orang-orang shalih.”

Baca dan amalkan doa ruqyah seperti yang diterangkan dalam hadits-hadits di bawah ini.

1.      Diriwayatkan dari ‘Utsman bin Abi ‘Ash Ats-Tsaqofi Ra. Bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Letakkan tanganmu pada anggota yang sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah sebanyak 3 kali:
بِسْمِ ﷲِ
Bismillaah
“Dengan menyebut nama Allah”
Dan ucapkanlah sebanyak 7 kali:
أَعُوْذُ بِاللّٰهِ وَقُدْرَ تِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أُحَاذِ رُ
A’uudzu billaahi waqudrotihi min syarri maa ajidu wauhaadziru
“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan (sakit) yang aku dapati dan takuti.”

Rawi hadits (Utsman bin Abi ‘Ash) berkata , “Maka aku melakukan itu, lalu Allah menghilangkan apa yang menimpaku (sakit). Aku selalu memerintahkan keluargaku dan lainnya dengannya (doa ruqyah).” (HR. Ahmad, Muslim, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

2.      Diriwayatkan dari Muhammad bin Hathib al-Jumahi, dari ibunya, Ummu Jamil binti al-Jalal, ia berkata, ”Aku datang bersamamu dari Habasyah. Tatkala engkau telah sampai di Madinah semalam atau dua malam, aku hendak memasak untuknya, tetapi kayu bakar habis. Aku pun keluar untuk mencarinya. Kemudian bejana tersentuh tanganku dan berguling menimpa lenganmu. Maka aku membawamu ke hadapan Nabi. Aku berkata, ‘Kupertaruhkan engkau dengan ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, ini Muhammad bin Hathib.’ Beliau meludah di mulutmu dan mengusap kepalamu serta mendoakanmu. Beliau Saw masih meludahi kedua tanganmu seraya membaca doa:

أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبِّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِيْ، لَا شِفَآءَ إِلَّا شِفَآؤُكَ، شِفَآءً لَا يُغَادِ رُ سَقَمًا

Adz-hibilba’sa robbinnaasi wasyfi antasysyaafii laa syifaa-a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughoodiru saqomaa
“Hilangakan penyakit ini wahai Penguasa manusia. Sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali penyembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak  meninggalkan penyakit.”

Dia (Ummu Jamil) berkata: Tidaklah aku berdiri bersamamu dari sisi beliau Saw, kecuali tanganmu telah sembuh.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Mundah dan Abu Na’im).

3.      Diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudry Ra., bahwasanya Jibril As. pernah mendatangi Nabi Saw lalu berkata, “Hai Muhammad, kamu mengaduh (sakit)?” Beliau menjawab, “Ya.” Jibril As. mengucapkan:

بِسْمِ ﷲِ أُرْفِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اَللّٰهُ يُشْفِيْكَ بِاسْمِ ﷲِ أُرْفِيْكَ
Bismillaah urqiika min kulli syai-in yu’dziika min syarri kulli nafsin au’ainin haasidin, Alloohu yusyfiika, bismillaahi urqiika
“Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mnyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang dengki. Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu” (HR. Muslim).


Doa-doa ruqyah ini bisa digunakan untuk semua jenis penyakit. Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Maksudnya, ruqyah bukan berarti hanya dibolehkan pada tiga penyakit tersebut. Namun maksudnya bahwa beliau Saw ditanya tentang tiga hal hal itu, dan beliau membolehkannya. Andai beliau ditanya tentang yang lain, niscaya beliau akan mengizinkannya pula. Sebab beliau sudah memberi isyarat buat selain tiga keluhan tadi.”



Cara Mengamalkan

Dalam prakteknya, ruqyah bisa dilakukan oleh diri kita sendiri atau melalui bantuan orang lain. Diternagkan dalam hadits dari ‘Aisyah Ra. ia berkata, “Jika beliau Saw mengaduh (sakit), maka beliau membacakan untuk dirinya al-Mu’awwidzatain lalu meniupkakn. Tatkala sakitnya parah, maka aku membacakan untuknya dan aku mengusap dengan tangan beliau karena berharap keberkahannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah).
Berikut adalah hal yang perlu diperhatikan saat meruqyah.

·         Mengikhlaskan niat dan menghadapkan diri pada Allah saat membaca dan berdoa.
·         Meniup pada bagiab tubuh yang sakit di tengah-tengah pembacaan ruqyah. Caranya, dengan tiupan yang lembut tanpa keluar air ludah. ‘Aisyah pernah ditanya tentang tiupan Nabi Saw dalam meruqyah. Ia menjawab, “Seperti tiupan orang yang makan kismis, tidak ada air ludahnya (yanag keluar).” (HR. Muslim).
Atau bolelh pula tiupan tersebut disertai keluarnya sedikit air ludah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Alaqah bin Shahhar as-Salithi, tatkala ia meruqyah seseorang yang gila, ia mengatakn, “Maka aku membacakan al-Fatihah padanya selama tiga hari, pagi dan sore. Setiap kali aku menyelesaikannya, aku kumpulkan air liurku dan a ku ludahkan. Dia seolah-olah lepas dari sebuah ikatan.” (HR. Abu Daud).
·         Tidak mengapa meniupkan ke dalam media yang berisi air atau lainnya.
·         Mengusap bagian yang sakit atau orang yang sakit dengan tangan kanan. Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah Ra., ia berkata, “Rasulullah Saw tatkala dihadapkan pada seseorang yang mengeluh kesakitan, beliau mengusapnya dengan tangan kanan. . .” (HR. Muslim).
·         Apabila penyakit berada di sekujur badan, atau lokasinya tidak jelas, seperti gila, dada sempit atau keluhan pada mata, maka cara mengobatinya dengan membacakan ruqyah di hadapan penderita. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, dari Ubay bin Ka’b, ia berkata, “Dia bergegas untuk membawanya dan mendudukannya di hadapan Beliau Saw. Maka aku mendengar beliau membentenginya dengan surah al-Fatihah.”

Wallohu a’lam bishshowab.



Sumber : Buku “Doa-Doa Kunci Keselamatan, Tolak Bala’ dan Bencana” karya Ust. Yusuf Mansur dan Ust. Mahmud asy-Syafrowi. Diterbitkan oleh Intuisi Press tahun 2012

Selasa, 22 April 2014

Pembahasan Kitab al-Hikam (Syekh Ahmad Ibn ‘Athoillah as-Sakandari) oleh Buya Yahya - Hikmah ke-6






Pembahasan Kitab al-Hikam (Syekh Ahmad Ibn ‘Athoillah as-Sakandari) oleh Buya Yahya


Hikmah yang Ke-Enam (6)

لاَيَكُنْ اَمَدُ تَأَخُّرِ الْعَطَاءِ مَعَ الْاِالْحَاحِ فِى الدُّعَآءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْاِسْتِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُهُ لِنَفْسِكَ وَفِى الْوَقْتِ الَّذِىْ يُرِيْدُ لَا فِى الْوَقْتِ الَّذِىْ تُرِيْدُ

Laa yakun amadu ta’’akhkhuril ‘athooi ma’al ilhaahi fiddu’aai muujiban liya”sika fahuwa dhomina lakal istijaabata fiimaa yakhtaaruhu laka laa fiimaa takhtaaruhu linafsika wa fil waqtil ladzii turiidu
“Jangan menjadi terlambatnya pemberian dari Allah dengan kesungguh-sungguhan dalam doa menjadikan engkau bosan/putus asa. Ketahuilah Dia (Allah) telah menjamin untukmu dalam mengkabul doamu terhadap sesuatu yang Allah pilihkan untukmu, bukan seperti yang kau pilih unutk dirimu sendiri dan dalam waktu yang Allah kehendaki, bukan di waktu yang engkau kehendaki”

Download pembahasan secara lengkapnya oleh Buya Yahya tentang hikmah ke-6 ini di link berikut.
hikmah ke-6
(klik kanan link di atas,pilih save link as)

Dan berikut adalah sedikit dari isi/kandungan ceramah Buya Yahya tentang hikmah ke-6 tersebut.

Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Allah dalam memberi adalah dengan sesuatu yang Allah pilihkan yang terbaik  untuk kita, bukan sesuatu yang kita pilih. Pada waktu yang Allalh tentukan, bukan kita yang tentukan waktunya, karena Allah tau kapan waktu yang tepat untuk diberikan.
Maknanya yang lebih luas bahwa sudah berjanji Allah SWT, “Memohonlah kepada-Ku niscaya Aku akan kabublka.”. Allah yang  berjanji dan Allah tidak ingkar janji. Karena memenuhi janji bagi Allah tidak susah. Karena Allah Maha Kuasa dan Maha Mulia.
Manusia saja jika ingkar janji sudah tidak bagus, bagaimana Allah yang Maha Kuassa ingkar janji? Sangat tidak bagus, maka Allah tidak akan ingkar janji.

Apa itu doa?
Ada 2 kandungan, lahir dan batin. Lahirnya adalah dengan bahasa kita, “meminta”. Batinnya adalah hakikat butuhnya kita terhadap pemberian Allah.
Sehingga belum punya nilai ibadah dalam suatu doa apabila hanya melalui lahir/ucapannya saja, melainkan dibarengi dengan rasa butuhnya kita kepada apa yang kita minta dan butuhnya kita kepaa Allah SWT. Semua itiu didapat dengan cara menampakkan makna kehambaan kita kepada Allah yang Maha Pencipta. Itu adalah syarat pertama diterimanya doa.
Syarat kedua adalah sebelum memohon kepada Allah, membersihkan kotoran yang ada di dalam diri kita (bertaubat). Kunci doa itu termasuk bertaubat.
Syarat ketiga, kita harus tau makna pengabulan itu seperti apa. Yaitu terwujudnya apa yang kita harapkan “dari kebaikan”. Adalah Allah SWT memberi sesuatu yang kita butuhkan meskipun tidak diucapkan oleh kita.
Artinya mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang babik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang Mengetahui sedang kamu tidak.

Wallohu a’lam bishshowab.